![]() |
| taken from random goggling |
"Sanctum" bercerita tentang petualangan menyusuri sebuah gua vertikal di Papua Nugini. Ekspedisi mereka di gua itu merupakan kontribusi untuk National Geographic. Pemicu konflik adalah kondisi alam itu sendiri. Terjadi sebuah hujan (badai) lebat yang tak terduga yang membuat mereka tidak dapat keluar dari gua dari arah mereka masuk. Sementara itu, air hujan terus mengguyur seperti kita mengisi sedotan dengan air yang diletakkan di gelas. Jelas saja, mereka harus menyusuri sedotan itu hingga keluar, berenang sebentar, lalu muncul di permukaan air.
Awalnya, ada enam orang yang terjebak di gua itu dan bersama-sama mencari jalan keluar. Namun, satu per satu tewas karena kecerobohan, kesialan, pengorbanan, dan pilihan. Hanya ada satu orang yang selamat yaitu Josh. Ayahnya sendiri, Frank, harus mati di tangannya karena permintaan Frank sendiri. Frank digambarkan sebagai seseorang yang menemukan dirinya di gua, dalam gelap, dalam dingin, dalam sunyi, di antara stalakmit dan stalaktit, dalam tekanan air yang tinggi dan kadar oksigen yang tipis. Frank mati di sana. Tinggallah Josh berjuang sendirian dengan sisa tenaga, keyakinan, dan bahan bakar yang tersisa mencari jalan keluar dari gua itu: lautan yang bisa mengantarkannya ke sebuah daratan
Semua bisa terjadi di alam. Bertualang di gua sangat berbeda dengan petualangan di bagian bumi yang lain. Ya, kecuali jika gua itu sudah menjadi "gua pariwisata". Jika Anda masuk ke "gua pariwisata" macam Gua Jatijajar, tentu tak terlalu repot memikirkan masalah safety karena pihak pengelola sudah menjaminnya.
Nah, konteks pembicaraannya adalah gua untuk petualangan. Siapa yang akan menyelamatkanmu jika tersesat di gua? Ketika bertualang di gua, kita seakan memasuki liang kurbur; dingin, gelap, dan sunyi. Selain perlengkapan yang memadai, kita tidak boleh mengesampingkan skill. Dari film "Sanctum" kita bisa memetik hikmah bahwa berenang dan menyelam adalah dua kemampuan yang wajib dimiliki saat telusur gua. Jika tidak memenuhi itu semua, kita hanya akan merepotkan orang lain dan menggagalkan misi kita itu sendiri.
Dahulu, saat saya masih menjadi junior dan pertama kali caving di Gua Petruk, Ayah, Kebumen, karena kecerobohan saya, semua dokumentasi penelusuran gua musnah. Sewaktu perjalanan keluar, dalam sebuah kamar gua, senior meminta saya memegang satu-satunya kamera yang dibawa. Sambil bercanda dan tidak memegang penerang, saya terperosok jatuh dalam kubangan air (dan bebatuan runcing). Saya selamat, tapi tidak dengan kameranya.
Pelajarannya: jika telusur gua, jangan percayakan kamera pada saya. :D
Kemarin, saat telusur gua-gua di deretan Karst Gombong Selatan dan saya sudah menjadi senior, saya berusaha memenuhi semua standar peralatan, terutama untuk diri saya sendiri. Gua Pengantin, Gua Barat, dan gua lupa apa nama gua itu, merupakan lorong-lorong bumi yang menantang untuk ditelusuri. Tapi, sekali lagi, penuhilah dirimu dengan peralatan dan kemampuan jelajah yang memadai jika akan bertualang di lorong bumi! Jangan sampai tragedi yang ada di film "Sanctum" terjadi!
Oh iya, jika mau baca referensi bagus mengenai gua-gua di Kabupaten Kebumen, Karst, dan Speleologi, bisa klik ini.
Semangat!
![]() |
| Caving di Pegunungan Karst Gombong Selatan |


susur gua petruk cukup menantang mba.
BalasHapus