Kethoprakan #1
Kethoprak bertajuk "Minak Jinggo Nagih Janji" waktu itu diadakan dalam rangka ulang tahun SMA N 1 Kebumen tercinta. Dari kepala sekolah hingga siswa terlibat menjadi pemain dan penabuh gamelan. Tentu, masih ada banyak personal yang terlibat di balik layar yang perannya tidak kalah penting dengan yang di depan layar, dari penata rias, penata lampu, penata suara, pengambil gambar, dan tak ketinggalan, operator. Pada cerita ini, saya berperan sebagai Dewi Anjasmara, seorang putri patih Loh Gender. Nah, inilah yang membuat saya merasa kecut kalau mengingatnya. Anjasmara jatuh cinta pada seorang tukang rumput yang bekerja di kandang kuda milik Patih Loh Gender. Nama pemuda itu adalah Damarwulan. Anjasmara merayu dan melakukan beberapa "love scene" yang konyol. Hm, itu benar-benar "pembunuhan karakter" saya. Saat sedang asyik memadu kasih dengan Damarwulan, kakak Anjasmara mengetahui itu dan mengadukan pada ayah mereka, Patih Loh Gender. Selanjutnya, Damarwulan diberi misi untuk menaklukkan Minak Jinggo (adipati Blambangan). Sayangnya, Damarwulan di sana juga terpikat pada kedua istri Minak Jinggo, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan yang sudah tidak betah lagi jadi istri Minak Jinggo. Dua istri Minak Jinggo itu bersedia mencuri Gada Wesi Kuning asal nanti mereka diperistri Damarwulan. Singkat kata, singkat cerita, Damarwulan menang.
Terlibat dalam pertunjukan kethoprak kali itu memberikan kesan yang sangat berarti bagi saya. :) Latihannya hanya satu kali, yaitu di laboratorium musik. Setelah itu, gladi bersih di Aula Setda. Nah, ketika tampil, lha kok semua dialog yang keluar dari mulut kami berbeda dari latihan-latihan yang pernah dijalani? Hampir semua yang diucapkan adalah spontanitas, apalagi saya yang semula berencana akan berbahasa Indonesia tiba-tiba keluar kosakata-kosakata bahasa Jawa sebisa saya. Jadi, harap maklum jika tata bahasanya tidak seperti layaknya seorang puteri patih. Selanjutnya, Anjasmara dan Damarwulan berakting dalam potongan video klip laguya Andity "Semenjak Ada Dirimu" dan "Aku Pasti Kembali" by Pasto. Sayangnyaa, lagu yang kedua salah putar, mungkin operatornya sedang terkesima :P. Tak apa. Overall, dari beberapa komentar menilai kethoprak (gratis) kali itu sukses besar. Siswa, alumni, penonton umum, memenuhi aula sekda hingga kethoprak selesai. Selamat untuk semua!
Sayangnya lagi, dokumentasi yang saya punya hilang bersama modarnya hardisk saya.
Kethoprakan #2
Kethoprak yang kedua mengambil lakon "Prahara Singasari". Dhalangnya masih sama, yaitu Ki Slamet Pramana. Namun, pada kesempatan itu, banyak orang penting yang terlibat, seperti Wakil Bupati Kebumen, Sekretaris Daerah Kabupaten Kebumen, Kepala BNI, dan beberapa pejabat lain. Jujur, ada semacam perasaan "tidak santai" pada penampilan kali itu. Takut salah bicara, takut salah adegan, dan takut tidak lucu yang semuanya bermuara pada kekecewaan penonton.
Saya berkesempatan menjadi Nyai Raminten, seorang dayang yang bersama tida dayang lain (Nyai Widoro, Nyai Besthari, dan Nyai Kenanga) selalu menemani Den Ayu Taruni di mana saja berada. Saya menyesal tidak bisa ikut beberapa latihan. Saya tidak mendapat gambaran yang jelas bagaimana karakter Nyai Raminten tapi lalu saya mengingat-ingat sebuah tempat nongkrong di Yogyakarta bernama "The House of Raminten". Lalu, saya ingat gambar pemilik resto semi cafe Raminten adalah seseorang yang "nyentrik". Dalam kartu bergambar yang pernah saya ambil (tapi sekarang entah di mana), tergambar seorang perempuan Jawa tempo dulu yang modis tapi genit. Ya sudah, mungkin Nyai Raminten kurang lebih seperti itu. Adegan yang paling saya ingat adalah ketika harus merayu Pangeran Kayun dan saya rasa itu tidak maksimal. Intinya, saya menyesal tidak bisa tampil maksimal.
Sebelum tampil, beberapa dari kami sempat mengintip dari balik layar. Begitu banyak penonton yang datang, penuh, sesak, riuh. Sebersit kekhawatiran tampak pada bola-bola mata kami yang bertatapan sesudah itu. Kami benar-benar takut mengecewakan penonton (yang telah membayar). Tinggalah kami saling menguatkan agar saling yakin dengan penampilan sendiri dan penampilan bersama.
Sesaat setelah riasan dan kostum terpasang pada dirimu, tinggalkan dirimu, jadilah siapa yang dimaksud kostum dan riasan itu di panggung.
Penonton tak tahu apa masalahmu, yang mereka mau tahu, kamu memuaskan mereka dengan tontonan yang diharapkan.
Di panggung, kamu tak bisa melihat dengan jelas siapa yang menontonmu karena begitu terangnya lampu yang menyorot ke arahmu. Namun, mereka akan dapat dengan sangat jelas melihat setiap gerak-gerikmu.
Bermain sajalah, toh itu hanya sandiwara. Setelah itu, selesai. :)
| Saat Taruni dan dayang-dayangnya berada di hutan |
| Beberapa pemain bersama Ibu Wakil Bupati Kabupaten Kebumen |
| pemain dan tim produksi "Prahara Singasari" |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar