Kamis, 13 Desember 2012

Kehilangan

Bagaimana rasanya kehilangan?

Aku pernah melewati perasaan kehilangan. Kehilangan anggota keluarga, kehilangan kesempatan, kehilangan benda, kehilangan cinta. Haha. Rasa kehilangan memang sakit pada awalnya namun perlahan-lahan kau akan terbiasa. Terbiasa dengan sakitnya! :D
Beberapa teman atau sahabat yang mengetahui kita sedang mengalami kehilangan akan memberi kata-kata yang menghibur; akan ada hikmah yang dipetik katanya. Kita pun hanya bisa mengangguk.
Bahwa ikhlas tidak bisa tiba-tiba. Dalam kamus saya, ikhlas adalah proses melupakan dan akhirnya lupa sama sekali, tak mengungkitnya kembali. Hikmah adalah sesuatu yang bisa kita ceritakan nanti.


Tapi, yang kualami baru-baru ini adalah sebuah rasa kehilangan yang sangat menendang keberadaanku sebagai manusia; bahwa Tuhan berkuasa atas apapun, bisa mengambilnya kapanpun. Semua data yang kusimpan dalam hardisk eksternal dinyatakan hilang. Begitulah kata mbak front office sebuah tempat servis dengan suaranya yang dibuat sendu. Aku berkata padanya; data-data itu sangat penting dalam hidup saya, Mbak, tolonglah diselamatkan oleh teknisi-teknisi yang ada di situ. Semua data dari aku bisa mengetik sampai sekarang, foto-foto yang belum sempat diaplod, yang belum dicopy oleh teman-teman yang wajahnya ada di foto itu, video-video yang hanya aku yang merekamnya, puisi, cerpen, rencana artikel, dan tulisan-tulisan lain yang belum sempat aku buka lagi, dan entah. Entah berapa kenangan, berapa gagasan, yang hilang begitu saja. &*^#@
Hardisk itu menjadi backup data sebelum punya laptop, selama punya laptop yang pertama, kemudian data di laptop hilang karena proses perbaikan. Lalu, aku terlanjur mempercayainya juga menjadi backup data-data dari beberapa flashdisk dan aku tak sempat menghitung berapa jumlah memori yang terpakai untuk menyimpan semua itu.
Aku tahu bahwa tak ada gunanya mengadu. Semua yang ada di sana sudah hilang.
Momen-momen indah yang terdokumentasikan itu; tulisan-tulisan yang menunjukkan eksistensiku sebagai makhluk yang berpikir itu; hilang, lenyap, musnah.

Pada titik ini, haruskah aku kembali mengulang perasaan sakit karena kehilangan? Haruskah aku ikhlas untuk ini; melupakan semua momen dan gagasan yang hilang itu? Lalu, apa yang bisa aku ceritakan dari kehilangan semua ini?

1 komentar: