Selasa, 20 November 2012

Surabaya oh Surabaya

tiket kami berempat

Ceritanya, kami berempat mau berangkat ke Surabaya. Mau berjuang. Bukan. Mau main. Bukan. Mau apa? Mau tahu ya? Iya. Baiklah. Jadi, kami ke Surabaya dalam rangka berjuang dan main ke Universitas Negeri Surabaya aka Unesa.
Dari awal kami sudah berjuang, mulai dari berjuang mengajukan proposal, berjuang mengajukan surat tugas, dan berjuang mencari tiket kereta. Dengan dukungan dana dari sekolah yang (ehm) terbatas, kami harus memutar otak bagaimana kami bisa sampai Surabaya tepat waktu dan harga terjangkau. Niat kami mau menggunakan kereta. Saya hubungi seseorang yang kebetulan kuliah di Surabaya dan meminta info bagaimana biasanya dia sampai sana dengan murah. :). Tak lupa, cek juga di websitenya PT Kereta Api Indonesia.


Kamis siang aku ditemani @IzmyAffifah mendatangi Stasiun Kebumen dengan niat memesan tiket. Ternyata, tiket untuk kereta itu telah habis. Alternatifnya adalah kereta yang lain, tapi tiket yang tersedia tidak sampai empat buah.  Setelah maghrib, aku coba berburu tiket lagi. Kebetulan Kamis setelah Magrib, kota Kebumen dilanda mati listrik. Seingatku, pemesanan tiket di stasiun-stasiun dilayani dari pukul 08.00 - 20.00 WIB. Namun, begitu hampir sampai sana, tepatnya, di jalan depan Sari Nabati dan Kodim, aku lihat stasiun kotaku gelap gulita. Kesannya angker. Lalu, aku menuju Alfamart, hasilnya nihil. Jangankan kereta ekonomi macam Gaya Baru Malam atau Logawa, kereta kelas bisnis saja tinggal sedikit tiket yang tersisa. Aku datangi tiga gerai Alfamart (di Jalan Pemuda, Mertokondo dan barat alun-alun) dan satu Indomart di Jalan Sarbini sambil sms dan telp orang-orang yang bisa memberi keputusan atau pencerahan. Sekitar pukul sembilan malam, aku masih di Indomart. Yang terjadi begini: hanya beberapa menit saja info dari situs PT KAI di gerai itu memberitahukan bahwa tiket masih tersisa banyak tiket, lalu aku tinggal sebentar saja untuk memberitahu dan meminta persetujuan orang-orang, dan ketika aku kembali ke kasir, tiket sudah habis atau tersisa kurang dari empat. Heran.
Singkat kata, singkat cerita, sampai lewat dari pukul sembilanmalam, aku gagal dapat tiket kereta. Frustasi, lalu pulang.
Esok paginya, coba kubuka www.ekamirabus.com karena ada seseorang yang menyarankanku naik armada itu saja, bahkan menawarkan pesanan tiket dari Terminal Giwangan Yogyakarta. Sepertinya ini alternatif yang cukup baik tapi aku ingin mencoba sekali lagi usaha untuk meraih tiket kereta. Alhamdulillah, aku dapat empat tiket kereta Mutiara Selatan walau posisi tempat duduknya berbeda-beda.
Kami sepakat berkumpul di Stasiun Kebumen pukul 23.00 karena kereta akan berangkat pukul 23.44 malam. Aku dianter ibu dengan becaknya Kang Surip, Ujang diantar bapaknya, Nazula dan Ulfah diantar entah siapa yang jelas mereka cenglu (boncengan telu pakai motor). Kami dilepas oleh orang-orang tersayang kami seakan-akanmau berlaga ke medan perang. Kebetulan kami menggunakan jaket almamater smansa tercinta (kecuali Nazula :P) jadi terkesan seperti anak panti mana, begitu.
Setelah tiket diperiksa (tidak terlalu diperiksa sih sebenarnya) oleh petugas pintu masuk penumpang, kami bermaksud mencari tempat tunggu yang nyaman, tapi ternyata tidak ada. Tidak kami temukan deretan bangku atau semacam tempat duduk yang manusiawi. Ya sudahlah, lesehan saja, seperti pramuka yang bisa menyesuaikan di mana saja berada.
Ada kereta Mutiara Selatan datang, tapi itu yang menuju ke Bandung. Juga, beberapa kereta dengan bunyi raungannya sendiri-sendiri, melewati stasiun Kebumen yang sederhana ini. Entah kenapa deru kereta api selalu menggetarkan hati ini, menyentil otak untuk membuka kembali lembaran-lembaran memori tentang stasiun, kereta api, peluit masinis, klakson panjang kereta, pedagang asongan, dan lain-lain. Haha, sudahlah, ini bukan saatnya melankolis.
Yak, kereta kami datang. Mutiara Selatan dari arah Bandung dengan tujuan Surabaya. Nazula bisa duduk bersama Ulfah, aku duduk bersama seorang laki-laki yang kemudian turun di Stasiun Tugu, Ujang duduk dengan seorang bapak. Kami berbeda gerbong dan sempat aku rasakan sensasi berjalan melewati sambungan antargerbong ketika kereta melaju cepat. Itu menyenangkan.
Laki-laki yang duduk di sampingku terlihat sedang sibuk dengan gadgetnya, ada netbook yang terhubung ke modem di pangkuannya, sementara kupingnya disumpal headset yang terhubung ke ponsel yang beberapa kali ia keluarkan dari saku jaketnya dan sempat kulihat itu smartphone. Biarlah, masing-masing orang punya cara untuk mengisi perjalanannya. Kubuka hapeku dan kukirimkan sebuah SMS yang aku tahu tak akan berbalas karena yang kutuju pasti sudah tertidur. Lalu, aku membuka facebook dan menulis sebuah status. Selanjutnya, aku mencoba untuk istirahat.
Saat kereta sudah melewati Stasiun Kutoarjo, laki-laki di sampingku mulai membuka pembicaraan dan aku layani karena aku tidak punya alasan untuk tidak. Berceritalah ia tentang tujuannya, pekerjaannya, pendidikan di Indonesia, kehidupan, dan apa lagi ya, aku lupa. Kuposisikan diriku sebagai penyimak yang baik karena sepertinya beliau sangat nyaman sebagai pembicara. Tak terasa sampailah di Stasiun Tugu yang kuhapal betul detail dan lorong-lorongnya. Laki-laki itu turun dan jika aku tidak punya tujuan ke Surabaya, aku pun ingin ikut turun. Dari stasiun ini hingga stasiun tujuan, kuisi perjalananku dengan tidur dengan berbagai posisi yang semuanya tidaklah nyaman. Sempat terbangun ketika kereta berhenti di stasiun dan seperti penumpang yang lain, aku hanya melihat-lihat dari jendela kereta mencari kata-kata yang menerangkan ini stasiun mana. Ketika kata-kata itu tak ditemukan, juga tak menjadi masalah. Lalu, aku ingat di hapeku ada fasilitas GPS yang bisa melacak keberadaan dan jadi menertawai diri sendiri mengapa hal-hal seperti ini seolah menjadi kebiasaan wajib penumpang kereta.
***
Dalam sebuah kesempatan terjaga aku dari tidur, kulihat ufuk timur sudah mulai terang. Tayamum lalu Salat Subuh dan aku yakin Tuhan Alloh Maha Pengertian dengan keadaan hambanya. Walau mata masih perih tapi raga sudah tidak bisa diajak tidur. Kunikmati bola oranye matahari yang mulai muncul dan perlahan-lahan menerangi belahan bumi ini. Oh iya, sekarang kan tanggal 10 November, Hari Pahlawan, gumamku dalam hati. Sudah.
Di tiketnya, tertulis kereta ini akan sampai di Surabaya Gubeng pada 06.08 pagi. Ujang sudah SMS dan memberi tahu bahwa panitia yang mau menjemput sudah siap.
Stasiun Wonokromo merupakan stasiun kecil di tengah kota rupanya. Begitu keluar dari stasiun dan dibonceng panitia menuju Unesa, kulihat Surabaya benar-benar riuh. Udara pagi terasa panas dan kebisingan ada di mana-mana.
Sampai di lokasi acara, kulihat rombongan peserta yang rupanya dari Bengkulu sudah datang tapi mereka sudah rapi sementara kami sangat tidak sedap dipandang. Di sana hanya ada dua kamar mandi di lokasi itu dan cukup membuat repot. Selanjutnya, acara-acara kami lalui dan kudapati kesan bahwa mahasiswa-mahasiswa dari Unesa ini sangat bersahabat dan penuh perhatian. Terima kasih dan semoga berjumpa lagi di lain kesempatan.
Hal yang menyenangkan adalah bisa bertemu alumni yang kuliah di Surabaya juga, di ITS, hanya seorang tapi tak apa karena aku cukup bersyukur bisa bertemu. Saat pulang, aku mendapat saran juga dari seorang alumni Smansa yang sudah lama di Surabaya ini (sayangnya tidak bisa bertemu padahal hampir saja bisa bertemu), supaya menggunakan bus Rosalia Indah. Ya, itu saran yang bagus karena bus itu akan melewati Kebumen walau aku sendiri memilih turun di Jogja :).
Begitulah kisah perjalanan kami ke Surabaya. Oya, perjuangan kami hanya berhasil meraih Juara Harapan dan itu pencapaian yang kami nilai cukup maksimal. Sampai jumpa lagi, Cak, Cuk! :)
Host acara yang keren-keren! Mbak yang paling kiri mirip BCL :)


Sepuluh finalis dan Dewan Juri
Sepuluh finalis dan Dewan Juri


Danau yang berada di tengah kampus. Mahasiswa Unesa menamainya "Danau Galau"

Terima kasih Alloh, terima kasih keluarga, terima kasih sekolah, terima kasih panitia, terima kasih teman-teman, terima kasih #seseorang. :) atas terselenggaranya pengalaman ini di hidup saya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar