Kamis, 28 Februari 2013

Gus Dur & Pramoedya Ananta Toer


Saya ingat, saya betul-betul melihat dua tokoh yang saya kagumi itu di depan saya, kira-kira jaraknya sepuluh meter dari tempat saya berada. Gus Dur, Pramoedya Ananta Toer. Di sana ada juga Gadis Arivia dan Mansour Fakih tapi fokus saya bukan itu. Mereka dikepung oleh orang-orang yang haus akan pencerahan kala itu, dalam sebuah acara di UC UGM. Suasana menghangat ketika dua tokoh fenomenal itu datang karena orang-orang menyambut mereka seperti pahlawan yang berjuang melawan "ketakutan".

Lalu, yang saya kenang sampai sekarang adalah kata-kata dari Pramoedya Ananta Toer,


"Anda bisa sekolah setinggi-tingginya tapi jika Anda tidak menulis, Anda akan dilupakan sejarah, karena menulis adalah pekerjaan untuk keabadian."


"Penakut hanya akan menjadi ternak!"

Gus Dur berbicara banyak hal kala itu dan sebagian besar langsung disambut gelak tawa orang-orang yang menyimaknya dan tentu saja yang paham dengan guyonan-nya. Ajaran Gus Dur yang masih saya pelajari sampai saat ini adalah "Syiir Tanpo Waton"-nya. Ajaran sufistik yang sebenarnya local colour ke-Indonesia-annya sangat kental (semoga interpretasi saya tidak berlebihan). Istilah itu jadi mengingatkan saya pada perkuliahan yang diampu Prof. Dr. Suminto A. Sayuti. Waduh, kalau Gus Dur baca tulisan saya, pasti berkomentar, "Gitu aja kok repot!". Haha

Ulasan tentang acara saat itu bisa dibaca di sini.

Mereka berdua hidup dalam era yang penuh ancaman. Orang biasa pasti ketakutan tapi mereka tidak. Mereka justru berkarya dalam kondisi represif macam itu. Hasilnya? Tentu saja yang bisa kita lihat dan bisa kita nikmati sampai saat ini: tulisan. Jasad mereka telah mati tapi tulisan mereka abadi.

Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar