Gunung-gunung di Indonesia banyak jumlahnya karena Indonesia dikenal sebagai "Cincin Api". Beberapa gunung telah menjadi objek wisata dan dikelola dengan baik oleh pihak-pihak tertentu, selebihnya menjadi ajang pendaki yang kebelet pipis di puncaknya, dan sepersedikit dari semuanya adalah puncak-puncak gunung yang beku nan misterius yang hanya bisa ditaklukkan pendaki cerdas dan pemberani.
Lanskap petualangan untuk menaklukkan puncak gunung tentu berbeda dengan petualangan di ranah lain, misal telusur gua, telusur pantai, atau bahkan diving. Implikasinya, kita pun harus menyiapkan segala sesuatunya menyesuaikan karakteristik alam yang akan kita rambah. Dalam hal mendaki gunung itu sendiri, kita bisa saja tak perlu repot membawa logistik jika gunung yang kita daki adalah gunung yang telah lama menjadi objek wisata sehingga para penjaja makanan bisa terlihat di setiap belokan jalan. Akan tetapi, mendaki gunung-gunung yang jarang diinjak adalah hal yang serius.
Baiklah, dari tadi, sebenarnya saya hanya ingin bicara masalah checklist untuk para pendaki tapi mukadimahnya kok malah jadi panjang ya.
Checklist untuk Diri Sendiri
- Tas ransel beserta cover bag-nya, ukuran menyesuaikan. Masa iya, naik gunung mau bawa tas koper? Pasti kerepotan membawanya, nanti seperti Mitos Sisipus yang mendorong batu terus-menerus ke atas bukit. Lagi pula, tidak akan terlihat keren! Biasanya, kita memakai ransel ukuran 50-70 liter. Di atas 70 liter itu biasanya dipilih untuk minggat, hehe, bukan, itu untuk mendaki gunung dengan jangka panjang, misal puncak-puncak bersalju dan ber-es.
- Senter atau Headlamp, beserta baterai cadangan atau charger. Saya sendiri nyaman menggunakan headlamp karena dengan begitu, tangan jadi leluasa untuk ngemil, ngupil, njawil, dan lain-lain. Pastikan baterainya dalam kondisi good saat mulai mendaki dan matikan jika tidak perlu-perlu amat. Usahakan sehemat mungkin karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di gunung, hehehe.
- Sleeping Bag (SB). Karena kebanyakan naik gunung itu melewati waktu malam dan pastinya dingin menerpa, tidur di SB adalah solusi yang baik. Janganlah berharap bisa menumpang di sleeping bag teman karena teman yang lain juga belum tentu bawa. Pada saat tubuh kita perlu tidur, maka tidurlah, Kawan, jangan memaksakan tubuhmu yang sudah lelah itu!
- Matras. Akan berfungsi saat kita istirahat. Biasanya, kita membawa dua matras; satu dipakai dalam ransel untuk membentuk body tas, satunya lagi yang digulung dan dikaitkan di luar tas. Jika merasa cukup hanya membawa matras yang berada di dalam tas ya tidak apa-apa, hanya harus sabar saat bongkar dan packing kembali.
- Pisau lipat. Betul, pisau memang dibuutuhkan saat mendaki. Bahkan, ada yang membawa parang besar untuk menebas semak-semak. Kebutuhan kita mungkin sederhana; untuk mencongkel tutup sarden, untuk mengiris sesuatu atau bahkan tidak perlu karena bahan makanan sudah begitu siap sajinya. Tapi tetaplah bawa untuk berjaga. Sudah ada pisau lipat yang ada sendoknya, garpunya, pembuka botolnya, bahkan ada kompasnya! :D
- Peralatan makan dan minum. Membawa sendok itu wajib hukumnya jika tidak mau tertular rabies teman, haha. Gelas yang terbuat dari bahan tahan panas juga perlu dibawa. Lalu, kalau masalah piring itu ada banyak pendapat. Mm, kadang, panci tempat kita masak mi instan juga bisa jadi piring ;). Bahkan tutup panci atau tutup rantangnya juga bisa bernasib jadi piring (kebangetan). Namun, jika kawan-kawan ini naik gunungnya dalam rangka shooting, lebih baik membawa piring betulan yang terbuat dari bahan yang ringan namun antipecah. Oke?!
- Peralatan masak. Saat ini, peralatan masak untuk naik gunung sudah bagus-bagus. Ada nesting; panci-panci beraneka ukuran beserta kompor dan tabung gasnya yang semuanya terkemas dengan ringkas. Jika Kawan bawa ini maka permasalahan memasak, menjarang air, dan cara memakannya mungkin sudah banyak terpecahkan, tinggal bahan makanan dan minumannya ada atau tidak, gas di tabung ada atau tidak. Namun, jika tidak ada, Kawan bisa membawa salah satu rantang di dapur. Untuk kompornya, bisa memenggal botol minuman kaleng. Tentu harus bawa spirtus dalam jumlah yang cukup. Sekedar tips, jika bisa memilih, pilihlah spirtus yang berwarna biru karena jika berwarna putih bisa tidak sengaja diminum. Alternatif lain, Kawan bisa membawa kompor lipat dan paravin. Namun, bersiaplah dengan jelaga pekat di bokong panci atau rantangmu, Kawan!
- Korek api atau korek gas. Sangat lucu jika sudah mengeluarkan peralatan masak, bahan makanan yang mau dimasak, menatanya sedemikian rupa, tapi lupa di mana korek berada. Usut punya usut, ternyata eh ternyata, memang tidak membawa. Ya, bersiaplah kembali ke zaman batu untuk menghasilkan api.
- Slayer. Buat apa sih bawa slayer? Bagi saya, saat naik gunung, slayer berfungsi sebagai penutup hidung saat melewati lembah penghasil belerang, saat udara dingin begitu jahat sehingga hidung saya ingusan, saat terik dan lupa tidak membawa topi, saat angin begitu kencang dan tekanan udara belum bisa diadaptasi dengan baik oleh kedua kuping kita, dan saat tidur muka jelek mungkin perlu ditutupi slayer.
- Sarung tangan. Silakan baca situasi dan kondisi, sekarang sedang musim apa. Jika musim kemarau, mungkin membawa satu sarung tangan tebal itu cukup. Namun, saat musim hujan, perlu antisipasi yang diri sendirilah yang bisa memperhitungkannya. Emm, usahakan bukan sarung tangan jenis paskibra tujuhbelasan di sekolah yang dibawa, ya Kawan! :)
- Kaos kaki. Penjelasannya sama seperti sarung tangan.
- Sepatu atau sandal khusus naik gunung. Sebagian orang merasa nyaman mendaki gunung menggunakan sandal gunung, termasuk saya. Alasannya klasik, takut terpeleset, padahal terpeleset atau tidak bukan masalah memakai sandal atau sepatu. Ada keuntungan saat memakai sandal; sandal mudah kering, mudah dilepas, dan saat turun gunung, tidak perlu takut ujung-ujung jari menjadi memar. Kekurangannya, kaki tak tahan dingin karena udara dingin cepat menyentuh kulit. Keuntungan memakai sepatu (terutama sepatu khusus tracking macam ini) di antaranya adalah terlihat gagah, tak khawatir pada medan berduri atau berbatu karena tak akan terlukai, dan suhu hangat kaki akan tetap terjaga. Kekurangannya, yang saya lihat, jika turun gunung, ujung-ujung kaki mereka melepuh. Juga, saat tiba-tiba hujan, terpaksa sepatu basah dan jelas itu keringnya tidak cepat, Kawan! Beberapa kawan yang memakai sepatu ternyata juga membawa sandal. Pilihlah yang terbaik untuk dirimu!
- Penutup kepala. Penutup kepala yang dimaksud bukan hanya menutupi ubun-ubun dan rambut, tapi juga kalau bisa menjangkau bagian-bagian kepala yang lain. Balaclava, misalnya. Memang terlihat seperti ninja, atau teroris yang tertangkap atau anggota Densus **, tapi saat naik gunung, balaclava dapat memberikan kehangatan yang bersahabat. Namun, kita juga bisa memilih jenis lain yang bisa memperlihatkan muka kita agar terlihat saat difoto.
- Jaket tebal. Ketika berada di basecamp sebelum naik gunung, saya melihat penduduk setempat mondar-mandir menjalankan aktivitasnya dan mereka memakai jaket. Mereka saja kedinginan apalagi kita. Bawa dan pakailah jaket tebal saat dingin terasa. Terlambat mempertahankan suhu tubuh kita sendiri bisa berakibat serius, yaitu hipotermia, meskipun hipotermia terjadi bukan hanya gara-gara tidak memakai jaket. Biasanya, awal mendaki, dari basecamp sampai POS 1 atau 2, tubuh kita sudah mulai gerah, jaket pun bisa dilepas. Jika kecepatan mendaki kita konstan, tidak kebanyakan istirahat, suhu tubuh kita pun akan terjaga. Jaket akan kita kenakan kembali saat nge-camp mendekati puncak :)
- Rain coat atau mantol. Raincoat bagian atas malah saya gunakan sebagai pengganti jaket saat berangkat dari basecamp. Lumayan hangat dan tahan terhadap embun. Lebih dari itu, di gunung, hujan bisa terjadi tiba-tiba karena begitu tak menentunya cuaca. Kabut pun dapat berhembus kencang dan membawa butir-butir air. Di gunung-gunung tertentu malah mengantarkan butiran es. Jadi sangat tepat jika kita membawa raincoat atau mantol. Dan perlu diulangi lagi, tas ransel kita pun sudah harus terlindungi dengan memakaikan cover bag-nya.
- Syal. Syal sangat berguna bagi yang tidak tahan dingin. Jika merasa cukup hangat dengan memakai jaket tebal, kaus tangan, dan lainnya ya tidak perlu memakai syal.
- Baju ganti. Baju ganti yang mau dibawa hendaknya disesuaikan dengan cuaca, perkiraan lama perjalanan, dan kondisi tubuh.
- Air minum. Saat memulai perjalanan mendaki (berangkat dari basecamp), persediaan air minum haruslah cukup. Yang juga harus dipertimbangkan adalah ada tidaknya mata air di tengah perjalanan nanti. Namun, alangkah baiknya kita tidak mengandalkan itu. Bawalah air minum yang cukup untuk mendaki dan turun gunung, juga untuk memasak. Membawa berlebihan akan beresiko beban terlalu berat.
- Bahan makanan (air, mie instan, oat, beras, sarden, serbuk minuman instan, dan lain-lain)
- Makanan ringan (coklat, kraker, permen, jeli, madu, dan lain-lain)
- Kantung plastik
- Tisu kering dan basah
- Peralatan mandi
- Peralatan ibadah
- Alat tulis sederhana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar